Azka Anggun Art

Saka Guru & Tumpang Sari Pada Rumah Tradisional Joglo

Home  >>  Artikel  >>  Saka Guru & Tumpang Sari Pada Rumah Tradisional Joglo

Saka Guru & Tumpang Sari Pada Rumah Tradisional Joglo

On April 19, 2012, Posted by , In Artikel, With Comments Off on Saka Guru & Tumpang Sari Pada Rumah Tradisional Joglo

Saka Guru“, merupakan struktur utama pada bangunan Rumah adat Jawa yang lebih dikenal dengan Rumah Joglo. Saka guru adalah sebutan untuk tiang atau kolom atau pilar yang berjumlah 4 buah. Tiang ini terbuat dari jenis kayu dengan besaran yang berbeda-beda menurut pada beban yang menumpang diatasnya. Saka guru berfungsi menahan beban diatasnya yaitu balok tumpang sari dan brunjung, molo,usuk,reng dan genteng.Saka guru berfungsi sebagai konstruksi pusat dari bangunan Joglo karena letaknya ditengah bangunan tersebut.

Tumpang Sari” atau Konstruksi Berujung dan Uleng.Bagian konstruksi inti dan ciri khas rangka atap pada bangunan rumah tradisional Joglo adalah terletak pada susunan struktur rangka atap “brunjung” (bentuk piramida terbalik, yaitu makin ke atas makin melebar dan terletak di atas ke-empat tiang “soko guru” disusun bertingkat sampai dengan posisi “dudur dan iga-iga”) dan susunan rangka “uleng” (susunan rangka atap berbentuk piramida yang disusun diatas ke-empat tiang “soko guru” ke arah bagian dalam). Kedua struktur ini kita kenal dengan nama “Tumpang sari bagian dalam dan bagian luar. Kedua struktur rangka ini merupakan ciri khas yang hanya dimiliki oleh bangunan tradisional bentuk Joglo. Jumlah susunan dan jenis ornament yang dibuat ialah berdasarkan dari keinginan sang pemilik rumah. Hal tersebut mempunyai arti dan makna tertentu yang berhubungan dengan kehidupan manusia di bumi ini. Pemasangan keseluruhan balok kayu rangka ini dengan menggunakan sistim “cathokan” atau saling berkaitan dengan sistim tarik, sehingga fungsinya mengikat konstruksi secara rigid. Sistim pengunci pada bagian rangka brunjung atau “tumpang” bagian atas adalah dengan sistim “sundhuk” dengan “emprit gantil”. Posisi pengunci terletak pada tumpang terakhir yang juga merupakan tempat menopang “dudur” dan “iga-iga” untuk menopang konstruksi rangka usuk dan reng atap. “Emprit Ganthil ini terdang dibentuk polosan atau diukir dengan bentuk ornament jenis “nanasan”.

Pada bagian “uleng terdapat “Dada Peksi” atau “Dada Manuk”, yaitu balok melintang yang terletak di tengah “pemindangan”. Dada Peksi ini biasanya diberi ukiran yang indah untuk memberikan kesan indah dan mempunyai makna-makna tertentu berdasarkan kepercayaan orang jawa. Struktur atap ini terkadang menggunakan “ander” pada posisi tengah diatas “dada peksi” untuk membantu menopang konstruksi “molo”, tetapi jika pada bagian tengah uleng sudah menggunakan penutup berupa “empyak”, maka konstruksi atap ini tidak lagi menggunakan “ander”. Kestabilan dan nyawa konstruksi bangunan joglo ini terletak pada keseluruhan konstruksi atapnya, sebab jika dilihat dari susunannya dapat terlihat dengan jelas bahwa teori beban konstruksi dengan mengikuti sifat gravitasi bumi yang diratakan dengan beban berat pada bagian konstruksi atap akan mengakibatkan konstruksi keseluruhan rumah menjadi stabil dan rigid.
Gambar dibawah ini merupakan bangunan rumah joglo lama yang di fungsikan sebagai rumah makan di kota gede (omah dhuwur).

Comments are closed.